Menaklukkan Gunung Ego

496px-Structural-Iceberg.svgKata-kata ini saya dapet dari sahabat saya Adhit, saat sama-sama belajar Clean Languange sama kang Asep Haerul Gani. Kata-kata ini begitu menggelitik, menyusup masuk, dan menggugah rasa penasaranku, “bagaimana persisnya menaklukkan gunung  ego itu?”

Mendengar kata Ego, saya langsung teringat pada Mbah nya Ego, yaitu Eyang Sigmund Freud, beliau tokoh teori psikoanalitik. Eyang Freud membagi Ego ke dalam 3 bagian, Id, Ego dan Super Ego.

Id

Id adalah satu-satunya komponen kepribadian yang hadir sejak lahir. Aspek kepribadian sepenuhnya sadar dan termasuk dari perilaku naluriah, kebutuhan dasar, bertahan hidup, dan libido. Menurut Freud, id adalah sumber segala energi psikis, sebagai komponen utama kepribadian. Id didorong oleh prinsip kesenangan, yang berusaha untuk memenuhi kepuasan dengan segera dari semua keinginan dan kebutuhan. Jika kebutuhan ini tidak langsung terpenuhi maka hasilnya adalah kecemasan atau ketegangan.

Namun menuruti sepenuhnya apa yang diinginkan id (prinsip kesenangan) tanpa melihat lingkungan sekitar akan menimbulkan konflik sosial dan menjadi tidak diterima lingkungan. Apalagi sampai merampas hak orang lain.

Ego

Yang berikutnya adalah Ego. Ego adalah komponen kepribadian yang bertanggung jawab untuk menangani dengan realitas. Menurut Eyang Freud, ego berkembang dari id dan memastikan bahwa dorongan dari id dapat dinyatakan dalam cara yang dapat diterima di dunia nyata. Ego bekerja berdasarkan prinsip realitas, yaitu berusaha memuaskan keinginan id dengan cara yang lebih rasional, masuk akal, dan diterima secara sosial.

Idealnya ego bekerja dengan alasan sedangkan id adalah kacau dan benar-benar tidak masuk akal. Ego beroperasi sesuai dengan prinsip realitas, bekerja dengan cara yang realistis untuk memuaskan tuntutan id, dan sering mengorbankan atau menunda kepuasan.

Seperti id, ego berusaha untuk mendapatkan kesenangan dan menghindari rasa sakit tapi tidak seperti id ego tersebut merancang strategi yang realistis untuk memperoleh kesenangan. Eyang Freud membuat analogi id menjadi kuda sementara ego adalah pengendara.

Seringkali ego cenderung lemah terhadap id yang kuat. Dan ego terbaik dapat bertahan dan mengarahkan id pada arah yang tepat dan pada akhirnya mengklaim seolah-olah itu adalah tindakannya sendiri. Ego tidak memiliki konsep benar atau salah, sesuatu itu baik jika mencapai tujuan akhirnya dan memuaskan tanpa menimbulkan kerugian bagi dirinya sendiri atau id.

Super Ego

Super ego menggabungkan nilai-nilai dan moral dari masyarakat yang dipelajari dari orang tua dan lingkungan. Ini mengembangkan sekitar usia 4 – 5 selama tahap phallic* perkembangan psikoseksual.

Tahap Phallic adalah tahap ketiga dari perkembangan psikoseksual, mulai usia tiga sampai enam tahun, dimana libido bayi pada pusatnya atau alat kelamin sebagai zona sensitif seksual. Ketika anak-anak menjadi sadar akan tubuh mereka, tubuh anak-anak lain, dan tubuh orang tua mereka, mereka memenuhi rasa ingin tahu fisik dengan membuka baju dan mengeksplorasi satu sama lain dan alat kelamin mereka, untuk membedakan laki-laki dan perempuan.

Fungsi super ego adalah untuk mengontrol impuls id, terutama seperti melarang norma masyarakat, terkait dengan seks dan agresi. Ini juga memiliki fungsi membujuk ego untuk beralih ke tujuan moralitas dari pada hanya realistis dan berusaha mencapai kesempurnaan.

Super ego terdiri dari dua sistem: Hati nurani dan diri ideal. Hati nurani bisa menghukum ego melalui memunculkan perasaan bersalah. Sebagai contoh, jika ego menyerah pada tuntutan id, super ego dapat membuat seseorang merasa buruk meskipun bersalah. Diri ideal adalah gambaran diri ideal yang diinginkan, dan mewakili aspirasi karir, bagaimana memperlakukan orang lain, dan bagaimana perilaku sebagai anggota masyarakat.

Perilaku yang jauh dari diri ideal dapat dihukum oleh super ego melalui perasan bersalah. Super ego juga dapat memberikan penghargaan kepada kita melalui diri ideal ketika kita berperilaku ‘benar’ dengan membuat kita merasa bangga. Jika diri ideal seseorang terlalu tinggi dari standar, maka apa pun yang orang tersebut lakukan akan dianggap sebagai kegagalan. Diri ideal dan hati nurani sebagian besar ditentukan di masa kecil dari nilai-nilai orang tua dan bagaimana seseorang dibesarkan.

Dengan kekuatan masing-masing mereka dapat bersaing, sangat mungkin terjadi konflik mungkin timbul antara id, ego, dan superego. Seseorang dengan kekuatan ego yang baik dapat secara efektif mengelola tekanan ini, sedangkan mereka dengan kekuatan ego terlalu banyak atau terlalu sedikit dapat menjadi terlalu keras hati atau terlalu mengganggu.

Menurut Eyang Freud, kunci kepribadian yang sehat adalah keseimbangan antara id, ego dan super ego.

Jadi bagaimana cara menaklukkan gunung ego kita? Jangan tanya saya karena sampai saat ini saya juga sedang dan terus menaklukkan gunung ego saya……

Psikoanalisa Jenis Otak Nafs menurut Islam
Id Reptil Ammarah
Ego Mamalia Lawwamah
Super Ego Neokorteks Muthmainnah
Advertisements

Posted on 15 May 2013, in Artikel, Pendidikan, SDM, terapi and tagged , , , , . Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: