Piscok Penuh Makna….

Apa yang Anda pikirkan ketika mendengar kata piscok, atau kalau mau iseng bertanya dengan Clepiscokan Language, maka bisa ditanyakan “seperti apakah piscok  yang piscok itu?”

Apapun yang Anda pikirkan tentang piscok, yang pasti dia itu enak banget, rasanya manis, ukurannya sebesar dan sepanjang pisang, warnanya coklat, dibalus kulit tipis yang gurih…. Hmmm rasanya membuat lidah menari…..

Ya… piscok itu adalah pisang cokelat, bukan pisang kocok.

Piscok ini mempunyai makna sendiri bagi saya…, ingatan langsung melayang ke masa kuliah dulu di UNJ. Piscok bagi saya bermakna perjuangan, cinta, kegigihan, kerja keras, semangat, dan haru.

Ada apa di balik piscok itu? Begini ceritanya….

Dulu sewaktu kuliah, untuk membantu keuangan keluarga yang kurang stabil, mama saya berinisiatif untuk membuat pisang cokelat. Belajar dari temen mama yang ternyata anaknya adalah temen saya, mulailah mencoba-coba untuk membuat piscok. Coba dan coba, dan ternyata rasanya enak juga….

Maka diputuskanlah untuk membuat piscok, tapi masih mikir kemana piscok akan dipasarkan. Setelah menimbang, memperhatikan, maka diputuskanlah untuk membawa piscok itu ke kampus, untuk dititipkan di beberapa kantin di kampus.

Maka dimulailah pembuatan piscok setiap pagi, selepas subuh. Dengan tekun dan penuh semangat mama buat piscok, kadang saya juga membantu membuatnya, mulai dari mengupas pisang, memotong, memasukkan ke dalam serbuk coklat, diberi gula, diolesi margarine, dibungkus dengan kulit lumpia, dan kemudian di goreng, setelah tuntas dimasukkanlah ke dalam plastic satu-persatu.

Setiap pagi saya bawa sekitar 30-50 buah piscok yang siap santap. Saat itu tahun 1999-2000 dijual dengan harga 500-600 perak saja. Kadang laku semua, terkadang tersisa juga. Piscok sebanyak 50 buah itu masuk tas, sehingga taskupun bau minyak gorengan….hmmm

Dan begitulah kurang lebih sampai 1,5 – 2 tahun jualan piscok di kampus. Sementara saat itu saya tidak bisa jualan, pemalu, saya harus membuat piscok itu habis terjual. Bersyukur sekali ada salah seorang kakak kelasku yang seneng jualan, apapun yang menghasilkan duit, pasti dijual. Jadi aku gak perlu repot-repot nawarin ke kantin-kantin kampus. Sebagian di jual di sekretariat HIMA (Himpunan Mahasiswa).

Itulah sekelumit kisah tentang pisang coklat, yang maknanya begitu mendalam bagi saya. Saya pernah tag di facebook ke temen yang ibunya jualan piscok., dia berkomentar, “Piscok bagi kita penuh makna ya…” dan tahukah Anda, temen saya yang komentar itu sekarang menjadi salah satu Dosen Manajemen di Universitas Indonesia.

Semangat piscok adalah semangat perjuangan, berjuang untuk berubah, berubah menjadi lebih baik. Dan itu sudah kami buktikan…..

Dan itulah “PISCOK” yang “PISCOK” itu…..

dan pagi ini siap melahapnya…..

Advertisements

Posted on 14 May 2013, in Artikel, Estetika, Hikmah, Intermezo and tagged , , , , . Bookmark the permalink. 1 Comment.

  1. PISCOK : Pisangnya cocok…cocok rasa cocok harga sehingga penuh makna untuk penjual maupun pembeli

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: