Spiritual Company

Mulai tahun 200o-an konsep yang berbau Spiritual mulai marak di belahan dunia manapun, tidak ketinggalan gaungnya sampai ke Indonesia. Tahun-tahun kedepan, diprediksi oleh beberapa ahli sebagai era spiritual. Era spiritual ditandai dengan maraknya pelatihan yang berbasis spiritual.

Di Indonesia tema-tema spiritual gaungnya mulai tersebar ke penjuru tanah air setelah hadir konsep ESQ yang dikenalkan oleh Ary Ginanjar dengan konsepnya ESQ Way 165. Melalui kedekatan beliau dengan menteri BUMN yang saat itu dijabat oleh Sugiharto dan beberapa pimpinan BUMN, maka berbondong-bondonglah beberapa BUMN untuk mengirim para petinggi dan pegawainya untuk mengikuti pelatihan ESQ. Tak ketinggalan, perusahaan-perusahaan swasta juga tidak mau kalah mengirimkan pegawainya baik top level, maupun middle untuk ikut pelatihan. Ada rasa penasaran yang mungkin saja menggelayuti mereka sehingga mengirimkan utusan untuk ikut pelatihan tersebut.

Efek dari pelatihan-pelatihan spiritual ini, banyak kemudian perusahaan-perusahan terkenal atau BUMN-BUMN top, mulai menerapkan konsep spiritual dalam operasional organisasi. Ini sesuatu yang wajar dan menurut penulis sesuatu yang alamiah sebagai suatu proses berkembangnya suatu perusahaan untuk meningkatkan kinerjanya. Konsep-konsep spiritual ini ketika diterapkan dalam sebuah organisasi atau perusahaan, akan melahirkan konsep spiritual company.

Ada yang mengganjal dihati penulis tentang konsep spiritual company ini.

Adalah hal wajar jika sebuah perusahaan yang memang secara fundamental sudah bagus dengan prinsip-prinsip manajemen mutakhir kemudian memutuskan untuk menerapkan konsep spiritual company, karena kesadaran ini lahir melalui proses hidup dan berkembang untuk menjadi lebih baik, dan secara naluriah konsep spiritualitas adalah puncak kesadaran dari umat manusia dan juga perusahaan, yang selama ini sudah penuh dijejali dengan konsep-konsep manajemen yang “mungkin” saja kurang klop dengan nurani.

Tapi ada yang terasa tidak wajar dan aneh, ketika perusahaan yang secara track record tidak bagus dalam manajemen perusahaan, yang dikelola dengan manajemen asal-asalan, yang penting jalan, kemudian ingin menerapkan konsep spiritual company. Bahkan karena trend pasar, banyak perusahaan yang kurang baik dalam manajemen, menawarkan produk-produk, layanan dan konsultasi spiritual.

Dalam konsep pendidikan, perusahaan seperti ini tidak melalui proses learning to do dan learning to be terlebih dahulu, belajar untuk melakukan dulu dan belajar untuk menjadi dulu, baru kemudian jualan….

Atau dalam bahasa agama, di Al-Quran disbutkan…, “Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu lakukan…..”

Jadi belajarlah dulu melakukan prinsip-prinsip spiritual, sebelum kemudian menjadi sebuah perusahaan spiritual. Karena ternyata tidak gampang untuk menjadi perusahaan spiritual, ada beberapa ukuran atau kriteria yang harus dipenuhi (ini hasil googling…):

  • Karyawan merasa happy. Karyawan merasa bahagia dan senang bukan karena karyawan mencari kesenangan sendiri, dari pada BT, tidak produktif, ada beberapa dari mereka, ” ya udahlah itung-itung dapet hiburan gratis….” Tapi kebahagiaan itu hadir dari hasil proses sistem manajemen yang memperhatikan kesejahteraan karyawan.
  • Perusahaan menerapkan pemberdayaan karyawan sebagai manusia seutuhnya. Perusahaan seperti ini menganggap karyawan sebagai aset yang harus dijaga, diberdayakan, dan dikembangkan. Bukan sebagai cost, yang harus ditekan-tekan.
  • Perusahaan dikenal memiliki integritas tinggi; Dalam operasional perusahaan, kesatuan kata dan perbuatan adalah sesuatu yang wajib dengan landasan kejujuran dan tanggung jawab.
  • Mau berbagi tidak hanya dengan karyawan dan share holder saja, melainkan kepada masyarakat , baik melalui program CSR ataupun kontribusi lain; Artinya tidak hanya memiliki “EGO” tetapi menjadi memiliki “Conscience”;

Menurut buku Manajemen Berbasis Nurani, Manusia terdiri dari ego dan jiwa, atau lebih mudahnya manusia diberi nafsu (ego) dan akhlak (nurani). Manajemen Berbasis Nurani adalah bagaimana Manajemen berlandaskan Nurani, sebagai pusat pengendali manusia.

Semoga Bermanfaat.

Wallahu ‘alam bishowab.

Advertisements

Posted on 12 January 2009, in Artikel, spiritual. Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: