Harapan

Seringkali orang hidup tanpa ada semangat, semangat yang menumbuhkan keyakinan. Keyakinan yang mampu membangkitkan harapan. Kalau bukan karena harapan, seorang ibu tak akan menyusui anaknya. Kalau bukan karena harapan mentari akan terbit diufuk pagi, petani tidak akan menanam padi di sawah. Jika bukan karena harapan bahwa anaknya akan menjadi anak yang berguna bagi keluarga, sholeh dan bermartabat, mungkin saja orang tua akan membiarkan anaknya terlantar begitu saja.

Harapan merupakan semangat hidup yang mampu memompa stamina untuk terus melangkah dan berjalan menapaki kehidupan yang penuh ketidakpastian. Harapan lahir dari sebuah keyakinan yang menghujam, bahwa hari esok akan lebih baik dari hari ini. Harapan hakiki adalah ketika dalam hati tertanam keyakinan yang luar biasa, bahwa janji Allah itu benar adanya. Dan keyakinan bahwa Allah itu ada dan merupakan puncak kenikmatan tertinggi manusia ketika manusia bertemu dengan Sang Pencipta, merupakan harapan tertinggi umat beriman.
Sayangnya, sebagian dari kita kehilangan harapan. Harapan untuk hidup lebih baik, lebih sejahtera dan beradab. Seorang ibu kehiangan harapan bahwa dia mampu bertahan menjalani kehidupan, maka yang lahir adalah pembunuhan. Betapa banyak berita yang kita dapat, bahwa seorang ibu membunuh anaknya sendiri karena ketakutan menghadapi hidup.
Betapa banyak masyarakat yang pesimis dengan pemimpin-pemimpin kita, dengan Indonesia lebih baik, sehingga yang lahir adalah apatisme dalam kehidupan sosial politik dan kemasyarakatan.
Tidak sedikit mereka yang tidak mempunyai harapan untuk sembuh dari penyakit, dan yang justru hadir adalah keputusasaan, sampai bunuh diri.
Pemimpin harus mampu membangkitkan harapan, bahwa kita BISA, kita semua MAMPU bangkit dari keterpurukan. Untuk bersama-sama membangun Indonesia lebih baik.
Sahabat, hidup hanya sekali, mari kita gantungkan harapakan kita kepada Yang Maha Kaya, Allah Rabb Semesta Alam. Kita akan hidup sekali, lalu mati, dan di akhirat sana kehidupan KEKAL ABADI telah menunggu kita.
Amal unggulan apa yang akan kita persembahkan untuk Rabb kita.? atau hanya kehinaan dan kenistaan yang akan kita persembahkan.?
Saudaraku, tidak ada yang tau, kapan kita menghadap Allah, oleh karena itu, tetap berusaha untuk berjalan pada orbit yang telah Allah gariskan, semoga husnul khatimah yang akan kita dapatkan. Amin.

Advertisements

Posted on 14 August 2008, in Artikel, Hikmah. Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: